Promo Rental Mobil

Rental Mobil + Sopir
Rp.300.000,-/hari

Rental Mobil + Sopir + BBM
Rp.425.000,-/hari

Sewa Perahu
Kapasitas 10 – 12 Orang Rp.425.000,-
Kapasitas 12 – 25 Orang Rp.725.000,-

Gangan

Gangan adalah masakan khas belitung yang sangat digemari sehingga tidak asing lagi bagi masyarakat belitung. Bahkan hampir setiap hari masyarakat memasak makanan khas ini untuk lauk sehari hari.
Jenis Gangan tergantung dari bahan yang dibuatnya, ada gangan ikan dan gangan darat. Bumbu yang digunakan sedikit berbeda antara keduanya. Akan tetapi pada umumnya Gangan dibuat dari bahan ikan seperti ikan kakap merah, ikan ketarap, ikan bulat, ikan kerisi dll.

Gangan darat dibuat dari daging pelanduk atau juga bisa dari daging sapi. Gangan darat menjadi khas dengan adanya bumbu daun mengkirai, pohon yang tumbuh di hutan.
Bumbu Gangan adalah kunyit lengkuas, kemiri, cabe rawit, bawang merah, asam jawa, terasi, garam, gula dan sedikit serai jika yang dibuat dari bahan ikan. Gangan cocok dihidangkan dalam keadaan hangat dengan nasi yang hangat. Para wisatawan yang datang ke Belitung harus mencoba makanan khas Belitung ini.

Mie Belitung

Mie Belitung terbuat dari mie kuning yang disiram dengan kuah kaldu udang. Dalam mie ada campuran udang, potongan tahu, tauge, emping, dan timun. Kuahnya agak kental dan terasa manis. Minumannya Es Jeruk Kunci. Minuman khas Belitung. Rasanya enak, dingin dan menyegarkan.

Bagi anda yang berkunjung di Belitung jangan lupakan kulinrt yang satu ini karena akan buat anda kembali lagi ke Belitung cita rasa yng khas yang tidak ditemukan ditempat lain,penasaran silakan coba hemmmm enakk dan lezat tentunya

Rajungan

Rajungan yang bernama latin Protunus Pelagicus merupakan jenis kepiting yang hidup di laut. Jenis ini biasanya ditemukan dalam pasang surut dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan timur tengah sampai pantai Laut Mediterania. Rajungan yang sangat populer dijadikan sumber pangan dengan harga yang mahal. Daging rajungan rasanya lebih manis, lebih empuk dan lebih gurih daripada kepiting.

Oleh karena rajungan hidup di laut maka rajungan ini halal untuk dikonsumsi. Masyarakat Belitung yang tinggal di kepulauan juga banyak mengkonsumsi rajungan ini.Rajungan dapat dimasak sesuai dengan selera, atau cukup dengan di rebus dan disantap dengan sambal juga sangat enak. Memang butuh ketrampilan sedikit untuk dapat menikmati rajungan ini. Anda dapat memanfaatkan kakinya untuk membuka atau mencongkel cangkangnya dan diteruskan dengan membelahnya, maka akan terlihatlah daging rajungan yang lezat itu. Anda tinggal menyantapnya dengan tangan atau sendok.

Maras Taun

Maras Taun berasal dari kata “maras” yang artinya Memendekan. Sedangkan “Taun” berasal dari kata Tahun. Maras Taun diadakan setahun sekali oleh masyarakat desa di Belitung sebagai wujud rasa syukur setelah melewati musim panen padi. Maras Taun merupakan pertanggungjawaban dukun kampung kepada masyarakat. Ritual utama dalam acara Maras taun adalah : Doa awal, tepong tawar, dan doa akhir atau penutup.

Maras Taun pada awalnya merupakan acara peringatan hari panen bagi para petani padi ladang di Desa Selat Nasik, Pulau Mendanau Kabupaten Belitung. Padi ladang hanya dapat dipanen setelah masa tanam sembilan bulan, oleh karena itulah perayaan panen ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Pada perkembangannya, pesta rakyat ini berubah, tidak sekadar untuk memperingati panen padi, melainkan juga sebagai ungkapan syukur semua penduduk pulau, baik petani maupun nelayan. Jika petani merayakan hasil panen padi, maka para nelayan merayakan musim penangkapan ikan tenggiri serta keadaan laut yang tenang.

Maras sendiri berarti memotong, dan taun berarti tahun. Makna dari nama ini adalah semua penduduk meninggalkan tahun yang lampau dengan ucapan syukur dan memohon untuk semua yang baik di tahun selanjutnya. Peristiwa Maras Taun ini, sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Selat Nasik saja, namun juga oleh beberapa desa di Pulau Belitung, Pulau Mendanau, dan pulau-pulau kecil lain yang termasuk dalam Kabupaten Belitung. Kendati demikian, perayaan Maras Taun di Selat Nasik merupakan perayaan pertama yang dijadikan agenda wisata dan telah didukung oleh pemerintah Provinsi Bangka Belitung.

Rangkaian perayaan Maras Taun dapat berlangsung selama tiga hari, dengan hari terakhir sebagai puncak perayaan. Sebelum puncak perayaan, masyarakat yang hadir disuguhi beragam pertunjukan kesenian dari Desa Selat Nasik maupun dari daerah-daerah lainnya. Beragam kesenian seperti Stambul Fajar khas Belitung, Tari Piring khas Minang, dan Teater Dulmuluk dipertontonkan. Selain kesenian tradisional, pentas musik organ tunggal juga turut menambah kemeriahan pesta rakyat ini.

Pada puncak perayaan, acara dibuka dengan lagu dan tari Maras Taun yang dibawakan oleh dua belas gadis remaja, yang menggunakan kebaya khas petani perempuan, lengkap dengan topi capingnya. Lagu yang dinyanyikan oleh para remaja ini merupakan lantunan ucapan syukur atas hasil bumi yang mereka dapatkan. Sementara itu, gerak dalam tarian ini menyimbolkan para petani yang bekerja sama saat memanen padi ladang.

Usai tarian dipentaskan, acara dilanjutkan dengan Kesalan. Kesalan sendiri merupakan haturan doa syukur atas panen yang telah dilewati dan permohonan berkah untuk masa depan, yang dipimpin oleh dua orang tetua adat Selat Nasik. Usai doa dipanjatkan, kedua tetua adat ini menyiramkan air yang telah dicampur dengan daun Nereuse dan Ati-ati. Penyiraman air ini merupakan simbol untuk membuang kesialan bagi warga desa.

Suasana perayaan Maras Taun akan semakin meriah ketika lepat (makanan dari beras ladang berwarna merah, yang diisi potongan ikan atau daging), diperebutkan oleh masyarakat. Dalam upacara Maras Taun, akan disajikan dua macam lepat, yakni sebuah lepat berukuran besar dengan berat sekitar 25 kilogram, dan lepat berukuran kecil berjumlah 5.000 buah. Lepat besar akan dipotong oleh pemimpin setempat ataupun tamu kehormatan, yang kemudian dibagi-bagikan kepada warga setempat. Pemotongan dan pembagian lepat ini merupakan simbol dari seorang pemimpin yang harus melayani warganya. Setelah itu, masyarakat setempat akan berebut untuk mengambil lepat-lepat kecil. Berebut lepat merupakan simbol kegembiraan warga atas hasil panen dan tangkapan ikan yang baik.

Muang Jong

Muang Jong berarti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal. Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September. Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan.

Ritual Muang Jong dengan bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, terutama di laut. Kisah itu bermula ketika pada suatu masa sekelompok orang Sawang yang tengah berada di laut lepas ditimpa musibah. Ombak bergulung-gulung yang menyertai hujan badai telah membalikkan perahu mereka. Setelah berminggu-minggu terapung, akhirnya pertolongan itu datang lewat penjelmaan dewa-dewi yang belakangan dipercaya sebagai penguasa laut. Mereka diselamatkan ke tempat yang disebut Gusong timur. Di sana diperlihatkan sebuah jong (perahu) dan pondok kecil yang mereka sebut ancak. ketika para penyelamat Orang Sawang itu menghilang, sadarlah mereka bahwa sang penyelamat tak lain adalah dewa-dewi sang penguasa Lautan.

Sejak saat itu Orang Sawang itu memutuskan mengadakan ritual muang Jong dengan cara meniru bentuk Jong dan Ancak yang diperlihatkan kepada mereka. Dalam bahasa umum, Muang Jong yang berpuncak pada ritual membuang miniatur perahu/kapal berikut sesaji yang menyertai nya ke laut, adalah semacam kegiatan sedekah laut. Selain untuk mengenang arwah leluhurmereka yang meninggal karena ganasnya ombak di lautan.Tradisi ini sekaligus sebagai sarana untuk memohon agar diberikan perlindungan dan keselamatan bagi siapapun yang menggantungkan hidup dengan mencari nafkah di laut. Bulan Juli dipilih sebagai waktu pelaksanaan Muang Jong lebih karena pertimbangan bahwa pada bulan-bulan berikutnya datang angin Barat. pada bulan-bulan tersebut biasanya ombak di laut mulai mengganas, ditandai dengan tingginya empasan gelombak dan cuaca yang kian tak menentu. Pelaksanaannya paling tidak berlangsung tiga hari tiga malam. Di dalamnya terdapat beberapa ritual yang harus dilaksanakan.

Antu Bubu

Antu bubu berupa permainan yang dulunya digelar pada waktu yang khusus, hanya untuk orang dewasa tidak diperkenankan bagi anak-anak. Kesenian Antu Bubu adalah manifestasi dari kebiasaan masyarakat untuk menangkap ikan yang menggunakan bubu. Sedangkan bubu itu sendiri adalah alat untuk menangkap ikan yang terbentuk dari jalinan bambu. Dalam penggunannya bubu biasanya diletakkan di tempak yang biasanya banyak terdapat ikan, ketika ikan masuk ke dalam bubu tersebut maka akan terperangkap sehingga tidak bias keluar. Sehingga jika beruntung akan mendapat ikan.

Mengenai sejarah Antu Bubu ini, bermuasal dari cerita mengenai seseorang yang bernama Yunus, beliau memiliki kebiasaan menangkap ikan dengan bubu. Meskipun bubu telah dipasang berhari-hari namun tidak satu ekor pun ikan terperangkap, timbullah kecurigaan di hati beliau. Akhirnya dengan kesaktian yang dimiliki, akhirnya diketahui oleh pak Yunus. Ternyata, ada seorang yang jahil mencuri ikan, bernama Sumadim. Tragisnya Sumadim meninggal dan jenasahnya tergeletak di tempat Pak Yunus memasang Bubu, dan arwahnya bergentayangan. Akhirnya, oleh orang-orang pandai (dukun) diabadikan menjadi sebuah permainan dengan nama Antu Bubu, yang mana roh Sumadim selalu dipanggil untuk masuk keBubu, sementara yang melawan pun akan kerasukan pula. Sementara dalam permainan antu bubu pawanglah yang berperan penting dalam permainan ini, karena ia yang memimpin permainan ini. Demikianlah sampai saat ini kesenian Antu Bubu masih tetap ada dalam kebudayaan di daerah Belitung Timur.

Pulau Kepayang

Pulau Kepayang Merupakan salah satu gugusan pulau yang berada di Desa Tanjung Binga. Dapat dicapai dengan menggunakan boat nelayan kira-kira 15 menit dari obyek wisata Tanjung Kelayang.Selain dijadikan Pusat Konservasi Penyu dan Program Rehabilitasi Penanaman Terumbu Karang baru. Tempat ini juga telah dilengkapi berbagai fasilitas berupa cottage, restoran yang penataannya disesuaikan dengan situasi alam setempat. Kondisi Pulau dikelilingi batu-batu granit besar serta rimbunan pepohon kelapa dan fauna lainnya membuat suasana terasa lebih romantis. Tak jarang tempat ini dijadikan sebagai tempat bulan madu bagi pasangan yang baru menjalani perkawinan.

Pulau Berlayar

Pulau Batu Belayar adalah Sebuah pulau kecil dimana pada bagian tengah pulau berdiri beberapa buah batu granit besar tersusun rapi diatas pasir putih yang dikelilingi air laut nan jernih. Tempat ini mudah dicapai menggunakan kendaraan boat nelayan sekitar 10 menit dari Pantai Tanjung Kelayang. Bila air laut pasang maka seluruh permukaan pulau tersebut akan digenangi air laut dan saat itulah keunikan batu-batu itu seakan tampak seperti sedang berlayar. Ketika air laut surut pengunjung dapat singgah dan berjalan-jalan sambil berphoto. Kegitan lain yang dapat dilakukan disini adalah snorkeling juga menyelam karena disekitar terdapat spot-spot wisata bawah lautnya banyak terdapat beragam terumbu karang dan jenis ikan.

Pulau Burung

Bila mengunjungi Pulau Lengkuas tak lengkap jika tidak singgah di Pulau Burung. Pulau ini menyimpan batu-batu unik salah satunya menyerupai kepala burung.Pulau ini tidak terlalu besar namun banyak ditumbuhi pepohonan yang dijadikan tempat bagi burung elang dan camar laut untuk bersarang. Keadaan lingkungannya jauh dari hiruk pikuk kota sehingga tempat tersebut sangat ideal sebagai tempat pelarian dari rutinitas kesibukan sehari-hari. Pasir Pantai yang putih bersih dan air yang jernih cocok untuk berenang dan menyelam. Lokasi mudah dicapai sekitar 20 menit dengan boat dari Tanjung Kelayang atau dari pelabuhan nelayan Desa Tanjung Binga.